WISATA KULINER DI KOLOMBIA DAN MEKSIKO

Tidak lama setelah Idul Fitri 2009, tepatnya 11-24 Okt 2009, saya ikut bersama rombongan melihat-lihat penerapan bus rapid transit (BRT atau lebih populer dengan istilah busway) di 4 kota di 2 negara: Meksiko (Mexico City & Guadalajara) serta Kolombia (Bogota & Pereira). Perjalanan total 2 minggu, termasuk lamanya pesawat terbang yg sumpah deh lamaaaa banget! Jakarta-Kuala Lumpur 1 jam. Transit di KLIA sekitar 1 jam. Lalu dari Kuala Lumpur ke Amsterdam sekitar 12 jam. Transit di Amsterdam 8 jam. Lalu ke Mexico City 11 jam. Berapa jam tuh totalnya?

KLM

Sebelum saya berbagi cerita pengalaman kuliner di dua negara tujuan, saya bercerita dulu tentang pengalaman makan di pesawat terbang. Pesawat yang ditumpangi dari Jakarta menuju Mexico adalah KLM. Baik Jkt-Amsterdam, termasuk Amsterdam-Mexico. Keduanya dengan KLM, walau ganti pesawat. Terus terang ini adalah pertama kalinya saya menumpangi pesawat KLM setelah …. 35 tahun! Saya sudah tidak ingat pengalaman ber-KLM-ria dengan orang tua saat kanak-kanak dulu. Jadi sulit untuk membandingkannya dan tulisan ini murni pengalaman dari ber-KLM tahun 2009 itu.
Banyak teman cerita bahwa makanan KLM enak dan menyenangkan. Perjalanan selama lebih dari 24 jam (dikali 2 tentunya dengan perjalanan pulang) menjadi pembuktian cerita teman-teman itu. Selama perjalanan entah berapa kali para penumpang dijamu dengan hidangan yang bagi saya sangat menyenangkan! Menu utama bervariasi, mulai dari lauk dasar ikan, sapi, ayam, hingga menu vegetarian. Disajikan dengan rasa mulai dari barbeque, kari, dan macam2 lainnya. Mungkin krn penumpangnya kebanyakan orang Malaysia, hingga menunya dicocokkan dengan selera negara tetangga itu. 

Kebetulan selera makan orang Indonesia mirip-mirip. Belum lagi ditambah dengan juice dan dessert berupa puding, es krim, buah-buahan, salad, dan aneka macam lainnya. Perkara minuman soda, coklat, biskuit, dan setumpuk bekal, ngga perlu disangsikan. Selalu siap tersedia di dapur pramugari. Kapanpun lapar atau haus tinggal ambil.
Ada pemandangan aneh bin lucu di dalam KLM ini. Suatu ketika ada seorang pemuda Barat, usia kira2 20 tahun, minta segelas air mineral kepada pramugari. Diberikanlah sebuah gelas plastik bersegel. Semacam gelas air mineral di negeri kita. Bedanya, ukurannya lebih pendek. Kira-kira 1/2 ukuran gelas lazim di Indonesia. Pemuda Barat itu bingung dan dalam bahasa Inggris ia bertanya,”Ini apa?” Saya duduk dekat ruang saji dan mendengar pramugari menjawab,”Itu air mineral. Dalam kemasan. Sama seperti air mineral dalam botol.” Dalam hati saya berkomentar, ternyata ada juga wong londo norak. Kemane aja loe?

BANDARA SCHIPOL, AMSTERDAM

Perjalanan pergi saya transit 8 jam, begitu pula sebaliknya, dan banyak aktivitas bisa dilakukan di bandara terkenal Amsterdam ini. Salah satunya adalah aneka restoran, walau sebenarnya ngga aneh-aneh amat. Tapi disini saya sempat makan di restoran Mc Donald’s menu Mc Kroket. Kroket? Iya benar kroket. Persis kroket di restoran HEMA Dutch Resto, tapi bentuknya bulat. Wah enak banget!

MEKSIKO

Selama di Mexico ada banyak pengalaman menarik seputar wisata kuliner. Oya, tentunya Anda akan bertanya tentang makanan halal. Jauh sebelum perjalanan ini saya sudah berusaha mencari informasi tentang restoran halal dan vegetarian di kota-kota yang akan dikunjungi. Sayangnya hasilnya nihil. Akhirnya saya hanya berniat untuk membatasi diri pada makanan yang jelas-jelas dilarang, yaitu babi, reptil, dll. Sepanjang bukan binatang-binatang itu, saya tutup mata saja sambil mengucapkan Bismillah. Saya tidak mau mempermasalahkan teknik menyembelih hewannya, karena sudah pasti nggada yang halal. Jika saya ragu maka akan saya hindari. 

Salah satu kosakata Spanish yang saya segera hafalkan adalah nama babi, yaitu cerdo (dan beberapa sinonimnya). Saya bersyukur hingga pulang ke tanah air, tidak kecolongan atau tertipu atau tidak menyadari bahwa yang saya makan adalah babi.


Saya termasuk orang yang menyukai masakan Meksiko. Setidaknya makanan Meksiko yang tersedia di Indonesia. Tapi…persepsi saya berubah sesampainya di Meksiko. Jujur saja, untuk pertama kalinya perut saya tidak cocok dengan masakan Meksiko. Rasa serba tanggung. Sudah ditambah garam, merica, merica putih, cabai bubuk, dll tetap saja rasanya ngga nendang. Menyerah saya. Bahkan untuk sebuah menu standar seperti ikan kakap digoreng tepung saja (seperti di Fish ‘n Co) rasanya ngga membuat saya ingin tambah.


Keunikan lain pada masakan khas Mexico adalah kecintaan mereka pada buah alpukat. Anda akan menemukan alpukat pada aneka makanan: sambal alpukat, saus alpukat, BBQ alpukat, acar alpukat, salad alpukat, selai alpukat, sup alpukat, dan segala macam lainnya. Bagaimana rasanya? Jangan ditanya deh. Saya hanya menyukai ketika disuguhi taco dengan alpukat dressing. Wah ini enak! Yang tidak pernah saya temukan hanya….juice alpukat. Di restoran manapun tidak ada yang menjual juice alpukat.
Makanan khas lainnya adalah kaktus. Khusus untuk kaktus, saya tidak ada masalah. Tekstur dan rasanya mirip-mirip daging lidah buaya. Biasa disajikan dalam bentuk juice, cemilan dessert, atau sup. Walau enak, tapi saya tidak mengejar-ngejar menu unik ini. Cukup makan 1-2 kali saja.


Bagaimana dengan masakan Meksiko yang tersedia di hotel? Saya berharap masakan hotel lebih standar internasional, dan dapat diterima umum. Ada beberapa menu yang saya makan, setelah saya yakini bukan cerdo. Namun saat tidak yakin, seperti biasa saya memilih makanan standar: telor omelette, roti toast dan mentega, cereal dan susu, dan buah-buahan. Sempat bingung juga saat minta mentega kepada pramusaji. Mentega tidak disajikan berdampingan dengan roti. Jadi saya harus meminta langsung dan rupanya pramusaji tidak paham ‘butter’. Sampai akhirnya mencari pramusaji berbahasa Inggris (disana semua orang ngomong Spanyol), dan baru tahu seharusnya saya meminta ‘margarine’. Duh….
Sepulangnya dari piramida Teotihuacan Aztec, kami sempat mampir ke sebuah restoran Meksiko (ya, tentu saja) yang juga menyajikan nyanyian Mariachi (itu lho serombongan cowok dengan topi sombrero main gitar aneka ukuran dan nyanyi keras-keras). Semacam Gypsy Kings tradisional. Mereka juga menampilkan tarian dan musik tradisional Meksiko. Lengkap dengan kostum adat.
Di restoran bernama Jaguar ini, selain harganya mahal, menunya ngga jelas. Maksudnya: mana yg babi, mana yg bukan, pramusajinya ngga menjawab dengan meyakinkan. Saya minta black pepper saja, dengan meyakinkan ia mengerti dan pergi sebentar. Namun yang dibawa adalah tabasco. Gubraak….
Makanan pinggir jalan? Seingat saya tidak satupun yang saya cicipi, kecuali aneka minuman tentunya. Ada beberapa minuman yang saya coba selama disana, dan sayangnya saya tidak ingat nama-namanya. Harusnya sih teman-teman saya ingat, karena kami semua menggemarinya.
Pengalaman lucu saat rombongan kami menginap di Hotel Holiday Inn, Guadalajara. Disini tersedia koki khusus telur omelette standar hotel bintang minimal empat. Seperti biasa saya menghindari ingredients berupa potongan sosis atau bolognaise. Cukup jamur, keju, paprika dan tomat. Yang menarik disini bukan telur omelette nya, melainkan sang koki. Dengan gaya meyakinkan sang koki memecahkan telur pada sebuah wajan kecil, dan menuangkan adukan telur ke alas penggorengan datar. Alih-alih mengumpulkan adonan supaya tidak menyebar dan mudah ditangani, ia malah menyebar adonan hingga meluas. Akibatnya mudah ditebak: adonan omelette susah untuk dibalik atau ditumpuk. Apa yang Jorge, si koki, lakukan? Ia tetap memegang sodet di tangan kanan, sambil berusaha membalik pinggir omelette dengan jari-jari tangan kiri. Oalaaahh…. Keesokan paginya ia digantikan dengan seorang koki wanita. Berperawakan gemuk khas ibu-ibu, tampak ia sangat trampil dalam membuat omelette. Akhirnya omelette-ku dihidangkan secara utuh. Tidak hancur lebur seperti buatan Jorge.
Makanan tidak enak tak ada bedanya di pesawat Mexican Air saat kami terbang dari Mexico City ke Bogota, atau penerbangan lokal lupa namanya dari Bogota ke Pereira.


Ketika berjalan-jalan di daerah…apa namanya lupa di kota Guadalajara. Catatannya ada sih. Lokasi ini semacam Pasar Seni Ancol, dimana banyak kerajinan tangan, acara seni, dan toko suvenir. Disini saya sempat mencoba cemilan kacang rebus (jauh-jauh ke Guadalajara cuma makan kacang rebus?) dan …. entah namanya bentuknya seperti buncis tapi isinya seperti kacang polong. Hijau warnanya. Rasanya? So-so lah…lumayan untuk ngemil.

KOLOMBIA

Pengalaman di Kolombia berbeda lagi. Malam pertama tiba di Bogota, kami diajak oleh rekan-rekan KBRI ke bukit… koq gue lupa namanya? Ketinggian 2.600 meter dari permukaan laut, udara dingin menusuk, dan pemandangan gemerlap kota Bogota dari atas bukit. Wah indahnya! Di sebuah restoran, kebetulan ini restoran khusus steak, saya memesan sebuah black pepper steak, dan minuman coklat panas. Saya lupa istilah well-done dalam Spanish, tapi jika diterjemahkan artinya ‘dimasak sampai selesai’. Bukan ‘dimasak sampai matang’. Bagaimana dengan rasa black pepper steak-nya? Hueeenak tenan! Benar-benar enak! Disajikan dalam sebuah frying pan (wajan datar), saus lada hitam, dan sedikit susu dan mentega. Porsinya banyak sekali. Namun saya yang sudah kelaparan sejak beberapa hari tersiksa di Meksiko, tak kuasa untuk menyantap habis steak lezat ini.
Bagaimana dengan minuman coklat panas? Aaahh…rasanya mirip coklat panas cafe Oh La La, namun coklat Kolombia ini mampu menyalip di tikungan. Semua terasa pas. Secangkir coklat panas ini sudah cukup. Jika nambah, membuat perut tidak enak.
Saya bermalam di Hotel Cosmos 100 di kota Bogota. Mengapa diberi angka 100? Rupanya hotel ini bertempat di 100th Avenue. Sajian makanannya khas hotel bintang lima di Jakarta. Seperti biasa saya menyantap roti toast dengan mentega atau selai strawberry, serta buah-buahan aneka rupa: marquisa, apel, kiwi, strawberry, hingga plum dan jeruk. Saya benar-benar menikmati sajian sarapan di hotel Cosmos.
Di suatu malam, saya ikut rombongan menikmati kehidupan malam di salah satu sudut kota Bogota. Seingat saya ini di jalan 92nd Avenue. Berbagai restoran ada disini yang umumnya menampilkan kopi, wine dan makanan lain kelas satu. Berhubung saya sedang kedinginan (cuacanya ajegile dingin!), sebuah sup ayam sayur dipesan. Lagi-lagi ada alpukat! Beruntung setelah ditambah beberapa jumput garam dan kocokan lada hitam, sup ayam ini menjadi menyenangkan.


Kerinduan akan masakan khas Indonesia terbayar ketika kami diundang bertamu ke kediaman Dubes RI untuk Kolombia. Semuanya masakan khas tanah air dan bahagia rasanya. Nampak para penjaga keamanan asal Kolombia yang bertugas di KBRI juga sangat menikmati masakan khas Indonesia.
Salah satu kejutan adalah ketika saya bertandang ke beberapa food court di kota Bogota dan Pereira. Selain tentu saja makanan standar Amerika (fyi, Kolombia itu sangat Amerika dibanding, katakanlah, venezuela atau Mexico). Saya memilih makanan yang penting bukan babi (tentu saja pilihan amannya adalah ayam), serta tampak menarik pada foto. Sekali waktu saya memilih semacam nasi goreng dgn potongan daging ayam dan sayuran. Ternyata rasanya persis nasi kebuli khas Lebanon! 

Dengan lahap saya menikmatinya hingga butiran nasi terakhir. Nasi kebuli khas Lebanon berbeda dengan daerah Timur Tengah lainnya. Umumnya yang berada di Jakarta adalah nasi kebuli asal Yaman atau Bahrain, yang sangat berminyak. Baru saya ingat bahwa penjajah kolonial Spanyol banyak membawa pekerja kasar asal Andalusia ke Amerika Selatan di abad 16-19. Kemungkinan inilah salah satu budaya Andalusia yang ikut terbawa ke Kolombia.
Salah satu produk Kolombia paling populer tentu saja kopi, selain coklat. Saya sempat membeli beberapa bungkus coklat dan kopi seduh, tanpa mencari tahu merk apa yang populer. Naluri saja. Ternyata saya tidak salah pilih. Kopi dan coklat merk Juan Valdez dan Oni adalah 2 merk paling populer di seantero Kolombia. Khusus untuk Juan Valdez, belakangan saya baru mengetahui merk ini sesungguhnya berasal dari sekelompok petani kopi yang berkumpul dan berserikat membentuk koperasi untuk kesejahteraan dan pendidikan. Belakangan mereka membentuk perusahaan bernama Juan Valdez. Konsep, kemasan, dan pelayanannya boleh diadu dengan Starbucks asal Amrik. Mewah dan berkelas, lengkap hingga merchandise nya.
Seandainya saja saya juga sempat mengunjungi Venezuela atau Brazil…

2 Comments Add yours

  1. sarah berkata:

    Keren banget pengalamannya. Btw, itu koki ceritanya gimana ya? Pensiun sementara kah?#hahaha Oia, kok gak photo bareng geng penyanyi Mariachi nya? Sayang jauh jauh gak photo bareng kan.. salam kenal yang​

    Suka

    1. surjorimba berkata:

      Koki itu mgkn sedang training. Entahlah. Perjalanan ini tergolong sudah lama. Tapi saya masih ada foto orangnya. Ancur banget deh itu omelette. Ngga tahu bikin apa karena bikin scrambled egg juga ngga.

      Foto dgn mariachi dan penari salsa ada di sebuah night club di Mexico City. Mereka bermain di atas panggung & juga di lantai menyapa tamu. Sayangnya kamera digital pocket saya saat itu tidak secanggih sekarang. Rata2 gambarnya bergerak atau kurang terang (indoor). Tapi ada video yg sangat jelas.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s