24 JAM, 4 BANDARA, DAN 2 TERMINAL FERI DEMI THE ROLLING STONES

“….flight Anda berlima di-reschedule menjadi esok hari, jam yang sama…”P1090114Udara dingin menusuk kulit dan gerimis hujan menyambut kedatangan kami berlima di bandara Macau International Airport, China. Angin berhembus 26 km/ jam, dengan temperatur udara 16 OC. Hari sudah menunjukkan pukul 15:00 dan kami mencari kendaraan menuju Best Western Hotel Taipa, tempat kami berencana menginap. Sepanjang jalan yang berkabut dan basah, tampak pemandangan kota Macau dari balik jendela taksi. Macau menjadi salah satu kota persinggahan The Rolling Stones, band legendaris asal Inggris, dalam rangkaian tur 14 On Tour-nya. Para legenda rock ‘n roll itu akan tampil di Cotai Arena, Venetian Macau, pada esok hari Minggu, 9 Maret 2014.

Perasaan bercampur aduk antara gembira bukan kepalang dengan rasa khawatir. Antusiasme sudah terbangun sejak awal bulan Desember 2013, saat Nelwin Aldriansyah mengabari keberhasilannya mendapatkan 4 buah tiket. Tanpa ragu saya konfirmasi. Kapan lagi bisa menyaksikan para legenda itu di atas panggung? Usia mereka sudah di atas 70 tahun! Hanya dalam waktu singkat empat calon penonton terkumpul. Selain kami berdua juga Okky Achmad Kosasih dan Danang Suryono, ditambah istri saya, Idah Maimun Hafidah, yang ingin ikut berwisata.

Mengapa ada rasa khawatir? Bukankah seharusnya ini adalah peristiwa bersejarah bagi kami semua?

Semua berawal dari perubahan jadwal penerbangan pulang ke Indonesia. Tiket yang sudah di tangan sejak pertengahan Desember 2013, direvisi oleh agen travel seminggu sebelum hari-H. Semula semuanya tampak wajar, tak ada yang berubah. Nomor kode booking, nomor tiket, kode penerbangan Philippine Airlines, rute penerbangan Jakarta-Manila-Macau dan Hong Kong-Manila-Jakarta, bahkan waktu keberangkatan dan kedatangan tak berubah. Tak ada yang nampak direvisi. Namun kami semua melewatkan satu hal: tanggal penerbangan transit pulang dari Manila ke Jakarta.

Saat check-in keberangkatan di bandara Soekarno-Hatta International Airport, kami diinformasikan bahwa jadwal perjalanan pulang mengalami perubahan. Sedianya perjalanan Manila-Jakarta pada tanggal 11 Maret, dijadwalkan ulang menjadi 12 Maret. Itu berarti kami harus menginap semalam di Manila! Petugas menjelaskan bahwa sejak 1 Maret 2014 Phillipine Airlines mengurangi jadwal penerbangan tujuan Manila-Jakarta. Flight kami termasuk di dalamnya. Tak ada informasi sebelumnya dari pihak agen travel bahwa revisi yang dimaksud adalah perubahan tanggal.

Bagaimana mungkin kami tidak resah dan khawatir? Tidak hanya karena keterbatasan dana, namun juga izin cuti dan rencana lainnya terancam berantakan. Petugas menyarankan kami segera menghubungi kantor Philippine Airlines setibanya di Manila perihal ini. Itulah yang pertama kami lakukan setibanya di Ninoy Aquino International Airport, Manila, Filipina, Sabtu dini hari. Petugas menerima pengaduan kami, namun tak mampu menjanjikan apapun. Harapan untuk perubahan jadwal (dan rute) dimungkinkan agar sesuai pesanan kami. Ia menyarankan agar kami mengurusnya kembali di Manila setibanya dari Hong Kong. Ia akan menghubungi pihak-pihak terkait.

Begitulah perjalanan diawali dengan berita yang kurang menggembirakan, yang sudah dimulai sejak berangkat dari Jakarta. Namun segera kami lupakan agar tetap menikmati perjalanan. Bukankah kami akan bertemu The Rolling Stones di Macau? Biarlah masalah itu diurus nanti. Waktu transit kami lalui dengan berkeliling kota Manila, mengunjungi Rizal Park dan Salcedo Saturday Market untuk sarapan.

Kota Macau, baik wilayah Taipa dan kota utama Macau, tergolong bersih dan tertata rapi. Kami menikmati sederetan kejutan seperti kendala bahasa, warga lokal dan petugas layanan umum yang tidak ramah, salah naik bus umum, supir ngebut, hingga tersesat dan mencari makanan yang halal. Beginilah adrenalin para backpacker. Umumnya kami berlima cepat beradaptasi karena terbiasa traveling. Tugas di hari pertama adalah orientasi lingkungan, termasuk terminal kapal feri menuju Hong Kong, gedung tempat konser, hingga jadwal bus umum dan kapal feri.

Minggu, 9 Maret menjadi hari yang paling dinantikan. Segera setelah pagi hari check-out dari hotel, kami mengunjungi tempat-tempat wisata seperti reruntuhan gereja Sao Paolo (berasal dari abad ke-16) dan Macau Tower (selesai dibangun tahun 2001, setinggi 338 meter). Pemandangan sekeliling Macau (dan sebagian Hong Kong, juga daratan China) tertutup kabut terlihat dari observation deck. Udara dingin dengan suhu 13 OC tak menghalangi semangat kami berwisata.

Tampak lokasi pengambilan gambar drama seri Korea, Boys Before Flower, di sekitar reruntuhan gereja Sao Paolo, termasuk kedai kue eggtart yang ikut menjadi lokasi syuting. Kedai ini bahkan sengaja mempertontonkan potongan film drama itu sebagai daya tarik utama. Dalam wisata ini kami banyak bertemu dengan sesama penggemar The Rolling Stones, termasuk mereka yang berasal dari Indonesia. Wajah-wajah musisi terkenal Indonesia pun ditemui. Perjalanan wisata ini kami mengandalkan kendaraan umum, bermodalkan petunjuk jalan, selembar peta, dan teknologi GPS. Meski demikian tetap saja ada kalanya kami tersesat atau salah membaca jurusan bus.

Sore hari menjelang malam, suasana gedung The Venetian Macau semakin ramai (termasuk arena kasino). Jangan dikira nggada calo tiket. Di sini pun ada. Juga para istri yang menunggu suaminya nonton konser. Venue Cotai Arena semakin semarak dengan aneka rupa penonton dan, setelah tertunda selama 40 menit, The Rolling Stones membuka konser dengan Jumpin’ Jack Flash dan You Got Me Rocking. Stamina dan kualitas Mick Jagger dan kawan-kawan luar biasa, mengingat usia yang sudah menembus angka 70. Sungguh enerjik dan nggada matinya. Panggung melingkar sepanjang 50 meter lebih pun tak masalah. Total 19 lagu dibawakan dalam waktu 2 jam. The Rolling Stones membuktikan bahwa usia bukanlah halangan untuk tampil sempurna di ruangan berkapasitas 15.000 kursi ini.

Segera setelah konser usai pukul 23:00, kami berlima bergegas menuju halte shuttle bus menuju Outer Harbour Ferry Terminal. Rupanya ribuan penonton serupa rencana kami, akan menyeberang ke Hong Kong dan tidak bermalam di Macau. Alhasil kami mendapatkan tiket keberangkatan pukul 02:30. Terkantuk-kantuk menunggu di ruang tunggu selama 3 jam, sambil menahan udara dingin yang tak kunjung berhenti. Satu jam perjalanan menyeberangi laut penuh ombak. Gelombang air pasang sangat membuat perut mual. Syukurlah mabuk laut hanya terjadi dalam 20 menit terakhir.

Udara dingin menusuk masih menyambut kami setibanya di Hong Kong-Macau Ferry Terminal pukul 03:30. Layanan kereta metro hari itu belum beroperasi, dan tak ada restoran 24 jam di sekitar terminal feri maupun stasiun metro Sheung Wan. Kami memutuskan untuk naik bus umum menuju stasiun metro Wan Chai. Konon ada restoran siap saji 24 jam di sana. Secangkir kopi hangat diperoleh sembari menunggu layanan kereta metro beroperasi pukul 06:00.

Hari Senin pagi itu, 10 Maret, saat matahari baru saja bersinar dan aktivitas pagi mulai berdegup, kami berlima menumpangi metro menuju stasiun Hong Kong Central. Di sanalah kereta ekspres menuju bandara Hong Kong International Airport berada. Meski tergolong mahal (HKD 100 per orang) namun kereta ekspres ini sungguh nyaman, bersih, dan canggih. Hanya sesaat kami telah tiba di bandara. Pesawat meninggalkan Hong Kong pada pukul 11:00 dan mendarat pukul 13:00 di Manila. Bergegas kami mengurus rencana perubahan jadwal penerbangan menuju Jakarta. Harap-harap cemas, karena kemungkinan terburuk adalah menginap satu malam di Manila.

Berita harapan pun tiba saat petugas menawarkan opsi. Ada flight menuju Singapura, untuk kemudian beralih pesawat dengan Garuda Indonesia menuju Jakarta. Tanpa biaya tambahan. Tak ada keraguan sedikitpun kami menerimanya, karena pilihan lainnya adalah menginap satu malam di Manila.

Waktu yang sudah mendesak membawa kami berlari-lari mengikuti petugas mengurus semua perpindahan itu, hingga bersiap di ruang boarding. Kecemasan belum hilang karena pesawat Philippine Airlines yang akan membawa kami ke Singapura tiba terlambat. Jika ia terlambat, maka kemungkinan juga akan terlambat berangkat. Bagaimana jika ia terlambat mendarat di Singapura, dan kami tertinggal pesawat menuju Jakarta?

Benar saja dugaan kami dan ketika pesawat mendarat pukul 19:40 di Changi International Airport, Singapura, petugas maskapai sudah menanti kehadiran kami di pintu keluar pesawat. Bersamanya kami jalan cepat (dan sedikit berlari) berpindah terminal menuju terminal 3, di mana pesawat Garuda Indonesia menuju Jakarta berada. Waktu sudah menunjukkan kurang 30 menit dari jadwal keberangkatan yaitu pukul 20:20. Tak ada waktu mengambil nafas, apalagi singgah di deretan duty free shop yang menggoda, hingga mengantri di pintu boarding dan duduk di kursi pesawat. Sekitar 1 jam 15 menit kemudian, kami pun menjejakkan kaki di Soekarno-Hatta International Airport.

Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Empat bandara dan dua terminal feri, kami lewati dalam 24 jam. Semua itu menambah kenangan penampilan panggung sempurna The Rolling Stones.

 

Surjorimba Suroto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s