MUSEUM GHIBLI

Udara musim dingin masih menusuk di kota Mitaka, Jepang. Arloji menunjukkan pukul 15:00 dan kami memilih untuk duduk di bangku seberang Museum Ghibli. Kala itu hari Jum’at, 10 Feb 2017, dan nampak sedikit orang berkerumun. Tiket Museum Ghibli kami untuk kunjungan pukul 16:00-18:00. Masih ada waktu satu jam untuk melihat sekeliling lingkungan museum.

Hari Jum’at itu termasuk melelahkan bagi saya, yang ditemani putri sulung. Pagi hari kami berdua menuju Tennozu Isle yang berada di ujung tenggara kota Tokyo. Kami mengunjungi pameran David Bowie Is, satu-satunya pameran tentang penyanyi legendaris tsb di Asia. Usai pameran kami bergegas menuju Hinode Pier untuk menumpang kapal pesiar (river cruise) menyusuri sungai dengan tujuan akhir Asakusa. Menurut rencana, dari Asakusa kami akan naik kereta metro menuju Mitaka yang berada di sisi Barat luar Tokyo.

Sementara saya menikmati pemandangan tepi sungai dari kapal, putri saya sibuk mengisi daftar mata kuliah untuk semester berikutnya. Saat itu sudah pukul 13:00 dan harus secepatnya mengirimkan daftar agar kuota kelas tidak terlanjur penuh. Sebagian mata kuliah dengan hari & jam favorit biasanya menjadi incaran sesama mahasiswa Dong-A University, Busan, Korea. Terlambat 15 menit bisa mendapatkan hari & jam yang tidak enak. Bahkan mungkin seluruh kursi terisi dan harus mengambil mata kuliah tsb pada semester berikutnya.

Sesampainya di Asakusa, kami bergegas ke stasiun kereta. Syukurlah ada tourist information center dan kami bertanya rute menuju Mitaka. Setelah daftar mata kuliah berhasil di-submit kami segera menumpang kereta menuju Mitaka. Cukup jauh perjalanannya. Mungkin 45 menit. Tiba di Mitaka kami mencari-cari pangkalan bus kota menuju Museum Ghibli. Sedikit repot menemukannya, tapi singkat kata kami berhasil duduk manis di dalam bus. Di dalamnya ada papan petunjuk rute, serta layar digital sehingga tidak perlu khawatir salah turun bus.

Lingkungan sekitar halte bus tergolong sepi. Tampak rumah dan toko berderet di seberang jalan. Kami menghampiri sebuah mini market sekadar untuk membeli camilan dan mengisi waktu. Dua orang sukarelawan Olimpiade Tokyo 2020 memberi kuesioner untuk diisi, dengan tujuan mendapatkan gambaran minat para wisatawan tentang Olimpiade. Selanjutnya kami mengisi waktu dengan berkeliling taman belakang museum yang cukup luas. Angin dingin tetap tak berhenti menyapa kami.

Mengunjungi Museum Ghibli sudah menjadi impian lama. Sudah bertahun-tahun saya menggemari film-film animasinya, sejak Princess Mononoke. Anak-anak saya lebih menyukai Howl’s Moving Castle. Ketika konfirmasi keberangkatan ke Tokyo sudah di tangan, ada dua tiket yang segera diburu: pameran David Bowie Is, dan Museum Ghibli. Hingga beberapa tahun lalu membeli tiket Museum Ghibli tergolong sulit. Rata-rata tiket pertunjukan di Jepang memang tidak mudah didapat. Tidak hanya karena kendala bahasa. Namun juga kemudahan akses, padahal teknologi internet juga sudah sangat maju di Jepang. Kecuali penjualan tiket pertunjukan itu. 

Betapa senangnya saya ketika mengetahui kini membeli tiket Museum Ghibli jauh lebih mudah. Tidak ada tiket dijual on the spot. Cukup mengunjungi situs resminya dan segera dilayani. Pilihlah tiket yang dikelola oleh mini market Lawson. Nantinya tanda terima bisa dibawa langsung ke museum, atau ditukarkan ke outlet Lawson manapun. Hanya saja ada jadwal penjualan tiket. Tiket untuk kunjungan baru dapat dibeli mulai tanggal 10 bulan sebelumnya. Contohnya saya akan berkunjung bulan Feb. Maka tiket dijual mulai tgl 10 Jan pukul 10:00 waktu Jepang (atau pukul 08:00 WIB). Harga tiket tidak mahal, hanya JPY 1,000/ orang. Bisa membayar dengan kartu kredit berlogo Visa atau Mastercard. Siapkan juga paspor karena Anda harus mengisi biodata. Pastikan sambungan internet kenceng, dan punya alternatif tanggal/ waktu kunjungan. Setiap harinya Museum Ghibli memberi pilihan 4 batch kunjungan per hari. Masing-masing 2 jam. Pilih segera karena quota setiap batch habis dengan sangat cepat. 

Memasuki pekarangan museum, pengunjung disambut oleh loket yang dijaga oleh Totoro, kucing raksasa dari film My Neighbour Totoro. Setiap pengunjung diberi tiket resmi dan selembar potongan film seluloid dari koleksi film Studio Ghibli. Benar-benar sebuah suvenir berharga! Pengunjung memasuki lantai dasar dan sudah disambut dengan interior yang cantik selayaknya film Howl’s Moving Castle. Tak berlama-lama, kami berdua langsung menuju lantai paling atas. Rencananya kami akan turun melewati setiap lantai hingga akhir jam kunjungan.

Rupanya lantai paling atas adalah toko merchandise! Sontak kami segera memasukinya dan melihat berbagai suvenir dan pernak-pernik. Ada sangat banyak yang dijual, mulai dari sangat murah hingga luar biasa mahal. Pengunjung sangat padat sehingga kami pun berhati-hati melewati setiap lorong. Takut ada barang tersenggol dan jatuh pecah. Kami keluar toko dengan membawa beberapa suvenir dan pajangan, seperti keychain Totoro dan miniatur robot film Castle In The Sky.

Lantai-lantai lain adalah cafe (berada di teras luar), patung robot yang tinggi besar (di atap museum), pekarangan rumput dengan ornamen Ghibli (sayangnya tak menarik), perpustakaan umum, serta galeri proses kreasi film-film Ghibli. Di antara semua itu yang paling menarik bagi saya adalah proses kreasi. Sayangnya nyaris semua keterangan hanya tersedia dalam bahasa Jepang.

Dalam salah satu alat peraga (sayangnya dilarang potret) terdapat beberapa ilustrasi background yang disusun secara berlapis hingga terlihat efek perspektif dekat-jauh. Beberapa lembaran background itu dapat bergerak horizontal. Ilustrasi belakang bergerak lebih lambat dibanding ilustrasi di depannya. Teknik ini digunakan untuk memberi efek landscape aktif ketika obyek di depannya, katakanlah seorang anak bersepeda, bergerak maju. Gambar-gambar ilustrasi itu tidak perlu dibuat berulang-ulang sebagaimana umumnya animasi. Cukup obyek utama (anak bersepeda tsb) yang dibuat berulang-ulang.

Dalam banyak hal teknik ini menghemat biaya. Apalagi jika ilustrasi sedemikian besar dan luas. Studio Ghibli memanfaatkan kamera bergerak naik-turun, hingga jauh-dekat, hingga efek yang diinginkan didapat. Luar biasa! Alat peraga tsb menyediakan dua tuas untuk kita operasikan. Satu tuas untuk geser ilustrasi horizontal. Satu tuas lain untuk geser lensa kamera vertikal. Kita cukup mengintip dari lubang kamera untuk bisa melihat hasilnya.

Materi pameran lainnya adalah berbagai original art. Umumnya dari film Totoro, Ponyo, Kiki’s Delivery Service atau Nausicaa, serta film-film pendek. Favorit saya Princess Mononoke dan Grave of the Fireflies, serta Howl’s Moving Castle yang jadi favorit putri saya, tidak banyak ditampilkan. Film-film rilis belakangan malah tidak ada seperti The Red Turtle dan Princess Kaguya.

Pada lantai dasar tersedia bioskop mini. Sayangnya saya tidak sempat ke situ karena keterbatasan waktu.
Hari sudah menjelang sore saat kami keluar museum. Sebuah pengalaman yang seru! Seandainya saja museum ini lebih luas dengan materi yang lebih komprehensif. Untuk studio sekelas Ghibli, museum ini terlalu kecil.

Sayonara!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s