NAMI ISLAND

Bagi mereka penonton Korea-drama (K-drama) generasi usia 40-50an, Nami Island, bukanlah nama asing. Pulau yang terletak tidak jauh di luar kota Seoul, Korea Selatan, ini adalah lokasi pengambilan gambar film seri K-drama, Winter Sonata (2002). Buat mereka yang tidak familiar, Winter Sonata dapat dikatakan sebagai pintu pembuka booming demam Hallyu, budaya pop Korea. Jauh sebelum demam film seri Goblin, The Princess’ Man, dan lainnya, Winter Sonata sudah menancap di hati penggemarnya sejak awal tahun 2000-an, termasuk Indonesia.

Winter Sonata bolehlah disebut sebagai standar barometer K-drama: cerita romantis, pemeran film rupawan, pakaian yang fashionable, rias wajah dan model rambut yang juga modis, alur cerita yang membuat penasaran, keindahan sinematografi, dan, tentu saja, lokasi pengambilan gambar yang romantis. Khusus butir terakhir, Nami Island menjadi lokasi yang sangat diidamkan bagi banyak orang. Keindahan alam dan pepohonan melekat di benak para penggemar Winter Sonata. Para turis pun tertular ikut terpikat, meski belum tentu pernah menonton Winter Sonata (seperti saya). Nami Island menjadi salah satu lokasi dalam itinerary yang wajib dikunjungi bila berwisata ke kota Seoul.

Ada banyak pertanyaan seputar Nami Island, terutama petunjuk arah menuju lokasi. Nami Island sendiri sesungguhnya merupakan area milik privat yang kemudian dikembangkan untuk konservasi dan kebutuhan publik sejak dekade 1960-an. Pada periode itu sudah sering dijadikan lokasi pemotretan, namun baru mendunia sejak Winter Sonata. Nami Island sendiri awalnya bukanlah sebuah pulau sebagaimana yang kita ketahui. Nami terbentuk akibat proses beberapa tahun di sungai Han yang membuat sebidang tanah seukuran pulau terwujud. Sejak awal banyak pohon chestnut dan mulberry tumbuh di situ.

Supaya terasa mendunia, Nami Island mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah ‘republik’ bernama Republic Naminara. ‘Negara’ ini memiliki ‘dasar negara’ dan berbagai ‘falsafah ideologi’ sebagai layaknya sebuah negara. Ideologi ini kira-kira setara dengan visi sebuah organisasi bagi Nami Island.

Selain pepohonan, taman bunga, dan sungai, Nami Island juga dilengkapi dengan penerangan, hiburan dan fasilitas umum. Di antaranya mushalla tempat beribadah bagi umat Muslim. Mushalla ini berlokasi di dalam restoran Asian Restaurant, yang juga memiliki sertifikat makanan halal. Mereka yang selama ini sering ragu dengan kehalalan masakan Korea dapat dengan tenang menyantap dan menghapus rasa penasaran.

Bagaimana cara menuju Nami Island?

Pada umumnya ada beberapa moda transportasi. Pertama, tentu saja kendaraan pribadi. Namun bagi wisatawan manca negara seperti asal Indonesia, ada dua cara: naik bus atau kereta api. Kebetulan saya pernah menggunakan keduanya.

NAIK BUS KE NAMI ISLAND

Lokasi keberangkatan bus menuju Nami Island ada tiga lokasi di kota Seoul. Insa-dong (pinggir taman Tapgol), Namdaemun (Sungnyemun Square Bus Stop depan Namdaemun Market) dan Myeongdong (di belakang pertokoan Shinsegae). Waktu keberangkatan ketiga +/- sama, yaitu pukul 09:30 pagi. Perjalanan sekitar 1,5 jam dengan bus yang sangat nyaman. Anda bisa memilih tiket sekali jalan (KRW 7,500/ dewasa), maupun tiket pulang pergi (KRW 15,000/ dewasa). Tiket masuk Nami Island seharga KRW bisa dibeli sekaligus (KRW 23,000/ dewasa termasuk ongkos bus pp). Harap diingat jadwal kepulangan bus dari Nami Island ke seluruh tiga lokasi tsb sama, yaitu pukul 16:00. Berhubung kapasitas bus terbatas, sangat saya sarankan untuk tiba di lokasi keberangkatan satu jam sebelumnya.

NAIK KERETA KE NAMI ISLAND

Stasiun terdekat ke Nami Island adalah stasiun Gapyeong. Kereta menuju stasiun Gapyeong bisa menggunakan kereta reguler dan kereta ekspres.

Kereta ekspres (ITX-Cheongchun) hanya tersedia melalui stasiun Yongsan di pinggir kota Seoul, stasiun Cheongnyangni, dan stasiun Chuncheon. Jika Anda berangkat dari stasiun berbeda, pastikan Anda terlebih dahulu menuju satu dari tiga stasiun tsb, keluar dari jalur kereta reguler (KORAIL), dan pergi ke loket ITX untuk membeli tiket ke stasiun Gapyeong. Harga tiket kereta ITX Cheongchun menuju Gapyeong sebesar KRW 5,200 untuk orang dewasa.

Ada dua kelas tiket pada ITX Cheongchun: tiket dengan nomor kursi dan tiket tanpa nomor kursi. Khusus untuk tiket tanpa nomor kursi tidak dijamin Anda akan mendapat kursi, dikarenakan jumlah terbatas. Harganya KRW 4,900/ orang dewasa. Sangat mungkin Anda harus berdiri sepanjang perjalanan karena kursi tanpa nomor habis. Saya mengalaminya ketika pulang dari Gapyeong menuju Yongsan. Berhubung terbiasa dengan kereta Commuter Line Jakarta, berdiri selama 1 jam itu sudah biasa.

Bila Anda berencana untuk kembali ke Seoul/ Yongsan dengan kereta ITX ini, sangat saya sarankan untuk membeli tiket pulang dimuka. Pilihlah jadwal kepulangan. Tiket bisa dibayar dengan kartu kredit, selain tentunya tunai. Oya, tentang kartu kredit: mereka kesulitan memroses kartu BNI. Kemudian saya sodorkan Citibank dan proses begitu instan!

Sesampainya di stasiun Gapyeong ada dua pilihan moda transportasi menuju Nami Island. Menggunakan bus atau taksi. Berhubung rombongan kami berempat, maka lebih murah naik taksi. Ada satu lagi pilihan, yaitu berjalan kaki sekitar 20 menit ke Nami Island. Tidak terlalu jauh sebenarnya. Namun saat itu hari tergolong terik, dan lebih baik naik taksi. Perjalanan taksi sendiri hanya sekitar 5-7 menit.

TIBA DI NAMI ISLAND

Tiba di Nami Island, atmosfir petualangan sudah terasa. Melewati parkir kendaraan pribadi, Anda akan melihat Zip Wire. Dengannya Anda bisa merasakan sensasi flying fox, melihat keindahan danau dan pulau dari ketinggian, plus hembusan angin segar. Harga tiketnya KRW 10,000 per orang, sudah termasuk tiket masuk Nami Island. Harga lebih murah untuk pemakaian setelah pk. 18:00.

Pilihan lain adalah menumpang kapal ferry menyeberangi danau menuju Nami Island. Bila belum punya tiket masuk pulau, tiket bisa dibeli seharga KRW 8,000 (warga asing) di loket. Biaya ferry sudah termasuk dalam harga tiket.

Tiupan angin segar menerpa wajah segera setelah ferry berlayar. Anda bisa memilih untuk duduk di dalam ferry, atau berdiri menikmati angin dan pemandangan. Sekeliling pagar ferry berhiaskan bendera banyak negara, yang semuanya berkibar seiring laju ferry. Berpeganganlah dengan pagar agar Anda tidak tercebur ke danau.

Tidak terlalu lama perjalanan dengan ferry. Sementara itu di ketinggian Anda akan melihat orang mengendarai zip wire sambil berteriak kegirangan. Kadang di kejauhan Anda akan melihat speed boat pribadi melaju sedang.

Sebelum memasuki pintu gerbang Nami Island, Anda dapat mengambil beberapa foto. Jangan lupa ambil brosur berisi peta lokasi dan daftar acara yang sedang berlangsung. Di dalam Nami Island, silakan bebas berkelana ke seantero pulau. Bila lapar Anda dapat mampir ke beberapa restoran, termasuk restoran Asian yang halal, atau toko suvenir. Di siang hari, terutama di akhir pekan, pengunjung Nami Island umumnya penuh. Keadaan ini membuat sulit keinginan berfoto dengan latar tanpa kebocoran obyek manusia. Butuh kesabaran tinggi, atau Anda bisa pergi ke tempat yang agak jauh. Berbagai pose bisa dilakukan, termasuk meniru adegan-adegan romantis dalam Winter Sonata.

Kembali kepada Winter Sonata, di seluruh spot lokasi adegan film terdapat memorabilia. Berupa dinding foto, patung, dan sangat banyak lainnya. Inilah kesempatan terbaik kalian untuk merasakan romantisme Nami Island seperti di dalam film seri Winter Sonata.

Untuk mendapatkan aneka sensasi, pengunjung dapat menyewa sepeda, stroller bayi, menumpang mobil elektrik, dan lainnya. Tentu saja semua itu tidak gratis (kecuali kursi roda).

Nami Island sendiri memiliki area sangat luas. Pilihlah berbagai jalan setapak yang akan membawa Anda ke seluruh penjuru pulau, hingga mencapai danau di sisi pulau yang lain. Di dalam pulau juga terdapat beberapa cottage dan ruang pertemuan yang dapat disewa oleh umum.

Mengingat luasnya pulau yang membuat pengunjung lupa waktu, umumnya saya menghabiskan waktu sekitar 4 jam di Nami Island. Sudah dua kali saya mengunjunginya, tahun 2015 dan 2017. Nampaknya dua kali kunjungan sudah puas, dan kali ketiga sebaiknya nanti lewat dari 5 tahun.

Kapan waktu terbaik berkunjung ke Nami Island? Jawabannya tergantung kepada minat Anda sendiri. Suasana alam terbaik sebagai latar belakang foto tentunya pada musim panas dan musim gugur. Warna-warna hijau, kuning, coklat, jingga, merah bercampur padu. Dua orang teman pernah mengunjunginya di musim dingin. Tak ada dedaunan tersisa pada ranting pohon. Bagi saya tak menarik, tapi mungkin Anda tertarik untuk merasakan sensasi berbeda.

PULANG KE STASIUN GAPYEONG ATAU DENGAN BUS

Sebelum pulang ke stasiun Gapyeong, sangat saya sarankan untuk makan. Bisa memilih restoran di dalam pulau, atau restoran di sekitar parkir kendaraan pribadi. Seingat saya tak ada restoran di stasiun Gapyeong, dan tak ada layanan kuliner selama perjalanan kereta.

Jika pulang ke kota Seoul akan menggunakan bus lagi, harap diingat jam keberangkatannya. Seingat saya bus akan berangkat ke Seoul pada pk 16:00-17:00. Pastikan Anda tidak tertinggal bus. Di sore hari umumnya kota Seoul sama seperti kota Jakarta: lalu lintas macet. Saya pernah terjebak dalam bus sekitar 30 menit hanya karena padatnya kendaraan pribadi.

Hari menjelang senja saat saya dan keluarga meninggalkan Nami Island. Wahana tutup setiap hari pk. 21:45. Tidak tahu juga seperti apa suasana di malam hari ketika lampu menghiasi pulau. Mungkin suatu hari saya perlu menginap di salah satu cottage untuk merasakan sensasi Nami Island di malam hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s