TRAVEL WISH LIST

Adakah tujuan wisata idaman yang belum terwujud? Saya ada. Adakah yang sudah terwujud? Tentu saja ada. Bagaimana akhirnya bisa terwujud?

Saya tidak terlalu ingat sejak kapan mengkhayalkan berdiri di depan sebuah landmark terkenal, atau melangkahkan kaki di sepanjang trotoir kota impian. Saat kanak-kanak banyak komik dan novel fiksi ilmiah dibaca. Tak terhitung. Baik dalam Bahasa Indonesia maupun Inggris. Tentu saja saya ikut berkhayal menjadi pilot pesawat X-Wing atau terbang ke cakrawala. Namun mustahil, bukan?

Mungkin impian keliling dunia dimulai saat membaca komik Tintin. Rekaan Hergé, komikus asal Belgia, memang membuat saya serasa ikut keliling dunia. Mungkin berkat novel-novel Jules Verne atau Robert Louis Stevenson? Atau mungkinkah karena banyak nonton film seri Battlestar Galactica? Entahlah.

Satu hal yang pasti keinginan untuk melihat dunia sudah melekat sejak kanak-kanak. Belum banyak kesempatan kala itu, meski saya lahir dan dibesarkan di negeri seberang. Petualangan pertama saat bergabung dengan klub pecinta alam di kelas 3 SMP. Sebagaimana judulnya, petualangan kami tak jauh dari kemping, naik gunung, panjat tebing, atau arungi laut. Sisanya adalah wisata kota-kota di Indonesia, bersama kedua orang tua atau semasa kuliah.

Perjalanan melintas batas negara dimulai sejak berkarir. Berhubung setiap perjalanan ini adalah kedinasan, saya berusaha untuk mengoptimalisasi waktu yang ada. Jadwal kerja disesuaikan agar ada waktu untuk jelajah negeri yang dikunjungi. Tidak tanggung-tanggung. Umumnya saya bertugas 7-10 hari di sana.

Inilah modus operandi saya dulu: merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan sebaik mungkin. Sebelum berangkat dan selama bertugas. Semua bahan, komunikasi dan analisa seintensif mungkin jauh-jauh hari. Tujuannya adalah cukup pemahaman dan diagnosa awal. Tiba di tujuan untuk mengumpulkan bukti, pengambilan sampel, dan konfirmasi. Dengan demikian jam kerja bisa optimal dan saya punya waktu sepulang kerja (dan terkadang akhir minggu) untuk berkeliling kota).

Salah seorang boss saya pernah memberi saran: print & tempel semua impian Anda pada dinding work station, ‘tempel’ impian itu agar Anda selalu teringat dan termotivasi mewujudkannya. “The universe will conspire to help you,” begitu katanya. Boss itu menempelkan gambar rumah dan mobil idaman. Saya? Gambar lokasi-lokasi wisata dunia. Ditempel pada work station? Tidak. Lebih canggih: saya jadikan wallpaper & screen saver komputer.

Dan benar. Satu per satu impian tsb terwujud, dengan berbagai jalan dan cara yang tak terduga.

Ibadah haji salah satunya. Ketika itu niat sudah ada dan istri mengajak untuk bertanya-tanya kepada Kantor Urusan Haji. “Bapak dan Ibu cukup daftar, setor uang muka kepada rekening Menteri Agama, dan Bapak dan Ibu otomatis masuk ke dalam waiting list,” ujar petugas. Kami melakukan itu semua dan, alhamdulillah, jarak satu tahun kami berangkat haji.

Akhir tahun 2009 saya dengar kabar bahwa Museum Hergé (komikus Tintin) dibuka di Belgia. Sebagai penggemar berat tentu saja sangat ingin ke sana. Tapi bagaimana caranya? Saya tidak punya cukup uang pergi ke Eropa. Terakhir ke Eropa bersama kedua orang tua di saat saya kanak-kanak. Museum Hergé termasuk dalam screen saver di atas.

Periode tsb adalah masa saya aktif dalam berbagai kegiatan komik. Mulai dari komunitas, pameran, penerbitan, sosialisasi hak cipta, juri lomba, koleksi hingga menulis artikel tentang komik untuk media massa. Pertengahan 2010 Goethe Institut Jakarta meminta kesediaan saya membantunya dalam program komik sebagai pertukaran kebudayaan antara Jerman dan Indonesia. Bertugas sebagai kurator, program manager dan organizer saya melaksanakan amanah ini. Saya tak pernah mengira bahwa di tahun 2012 harus memimpin pameran komik di kota Erlangen, Jerman. Usai pameran itulah saya memenuhi satu impian, yaitu berkunjung ke Museum Hergé di kota Louvain la Neuve, sekitar 30 menit naik kereta dari kota Brussels, Belgia.

Semasa kecil saya sering membaca buku/ majalah tentang ekspedisi Amazon, Amerika Selatan. Rada-rada serem dan mistik. Apalagi alam dan faunanya menyeramkan. Ngga pernah terpikir suatu hari bakal mendaratkan kaki di selatan benua Amerika. Namun berkah membawa saya ke sana. Adalah sebuah pekerjaan di masa-masa tersulit dalam sejarah karir yang membawa saya ke kota Mexico, Guadalajara dan Bogota. Di akhir perjalanan sampailah di puncak piramida Teotihuacan.

Kalian pastinya pernah ke travel fair, khan? Berawal dari mencari tiket murah ke Seoul (Korea Selatan), saya berakhir dengan membuat transaksi ke Raja Ampat. Wisata laut tidak banyak dieksplorasi. Hanya pernah melaut ke Gunung Krakatau atau naik kapal dari pelabuhan Belawan ke Tanjung Priok. Selain itu hanyalah Bali. Nama Raja Ampat sudah menempel dalam impian, namun rencananya keindahan batu karst dan laut wilayah Timur menjadi pamungkas. Dalam daftar lebih prioritas Lombok, Karimunjawa, Derawan atau Morotai. Alhamdulillah, rezeki malah membawa saya langsung ke primadona keindahan alam lautan Indonesia.

Hingga kini masih banyak tujuan wisata dunia yang sangaaaaattttt ingin dikunjungi: Samarkand (Uzbekistan), Isfahan (Iran), Maroko, Alexandria (Mesir), Petra (Jordania), Jerusalem (Palestina), Bora-Bora, Morotai, Halmahera, Kepulauan Kei dan entah di mana lagi. Apakah kini secara khusus saya mempersiapkan perjalanan ke tempat-tempat itu? Tidak. Biarkan jagad raya berkonspirasi untuk mewujudkannya. Jika jagad raya mau membantu saya, tentunya Anda juga akan dibantu.

Never stop trying and praying!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s