MASJID OSAKA, JEPANG

Hari Jum’at pagi itu, kami sekeluarga melangkahkan kaki keluar dari stasiun Dekijima dengan hati gembira. Perjalanan yang tergolong jauh dari pusat kota Osaka, Jepang, akan segera tiba di ujung penantian: Masjid Osaka. 

Kami berangkat dari stasiun Osaka-Uehommachi menuju arah Amagasaki di pinggiran kota Osaka. Stasiun Amagasaki berada pada jalur Kintetsu-Nara Line. Bisa ditebak dari nama jalurnya, kereta yang kami tumpangi juga dapat membawa turis ke kota Nara. Berbeda dengan jalur kereta pada umumnya, sebagian jalur menyediakan beberapa pilihan kereta: berhenti di setiap stasiun, semi-rapid (berhenti di sebagian stasiun saja), dan rapid (hanya berhenti di beberapa stasiun utama saja). Berhubung ingin segera sampai kami menumpangi kereta rapid. Oya, tambahan info: tidak ada perbedaan tarif atau harga karcis antara ketiga pilihan tsb.

Kereta jalur Kintetsu-Nara Line tergolong mewah jika dibandingkan dengan kereta metro Osaka lainnya (yang menyerupai kereta commuter line Jabodetabek). Anda dapat perhatikan interior dan eksterior kereta pada foto berikut. Pada hari Jum’at pagi itu kereta tergolong lengang. Kami dibawa menjelajahi pinggir kota Osaka dan menyeberangi sungai dan jembatan. Tampaknya Masjid Osaka berada pada tanah perluasan yang sesungguhnya area reklamasi.

Kami tiba di stasiun Amagasaki -/+ dalam 20 menit dan segera berpindah peron. Stasiun tujuan kami, Dekijima, terletak satu stasiun sebelum Amagasaki. Tadi Dekijima terlewat karena jereta rapid tak berhenti di situ. Petugas sempat keliru mengarahkan, karena kereta yang ia tunjuk mengarah ke Nara. Beruntung kami sempat pindah kereta dan hanya 3-4 menit kemudian kami tiba di stasiun Dekijima. 

Stasiun Dekijima tampak sangat bersih dan rapi, dan …… sangat sepi. Rasanya hanya ada 2-4 orang lain selain kami. Setelah mampir di toilet, kami mampir ke sebuah mini market di luar stasiun untuk membeli minuman. Mulai dari titik ini kami mengandalkan aplikasi Google Direction untuk membawa ke Masjid Osaka. Saat itu arloji sudah menunjukkan pukul 10 pagi dan langit tampak cerah. Udara sejuk dan hangat, padahal sehari sebelumnya sempat 7°C.

Jalan kaki menyusuri trotoir sangat menyenangkan. Sisi kota di sini tampak sepi. Tidak banyak aktivitas warga di jalan. Mungkin mereka sudah berangkat kerja. Murid sekolah terdengar heboh dan gembira dari balik tembok sekolah. Beberapa kendaraan dan sepeda parkir di pekarangan gedung kantor. Rata-rata hanya setinggi 3-5 lantai. Setelah berjalan santai 15 menit sampailah kami di Masjid Osaka.

Di seberang masjid tampak sebuah restoran halal. Sudah waktunya brunch dan tak ada salahnya makan siang sekarang. Restoran masakan Turki ini menyediakan paket prasmanan seharga JPY 1,200/ orang. Mahal memang. Tapi kapan lagi kami bisa ke sini? Sebuah keputusan tepat karena semua masakan Turki di sini enaaaakkkkk.

Shalat Jum’at dimulai pk. 13:00. Nyaris 1 jam setelah waktu adzan di Osaka. Bagi saya tak mengherankan mengingat rata-rata jamaah baru bisa berangkat shalat pada jam istirahat siang dan butuh waktu mencapai Masjid Osaka. Imam yang memimpin nampaknya berasal dari Malaysia. Saya coba tebak melalui logat ceramah dengan bahasa Inggris pada bagian pertama. Dua bagian berikutnya, dengan tema sama, disampaikan dalam bahasa Arab dan Melayu. Agak mengherankan karena tak ada ceramah dalam bahasa Jepang, seperti halnya di Masjid Camii Tokyo.

Ceramah berisi hikmah di bulan Rajab. Sebuah tema yang menyejukkan hati terutama bagi saya yang sudah muak dengan ceramah tema politik di Jakarta. Juga tidak ada uraian penderitaan umat Islam di daerah-daerah konflik. Kali ini ceramahnya murni tentang bekal iman.

Usai shalat saya memerhatikan para jamaah yang beragam. Tampak wajah-wajah Melayu di tengah kerumunan dan bergegas memenuhi mini market di lantai bawah masjid. Terlihat juga produk asal Indonesia seperti mie instan dan sambal.

Ketika umumnya mereka berhandai-taulan usai shalat, saya sekeluarga bergegas pulang kembali ke stasiun Dekijima. Semoga masjid ini senantiasa maju dan sehat, serta membawa kebaikan bagi lingkungan dan masyarakat Osaka.

One Comment Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s